STAIN/IAIN MENUJU UIN (Perspektif Pemikiran Pendidikan A. Malik Fadjar)

Desember 11, 2009

Oleh: Muh. Idris

Abstrak

STAIN/IAIN dalam konteks kekinian tidak memadai lagi dalam merspon tantangan globalisasi dan modernisasi. Islam yang begitu universal dalam pengembangan nilai-nilai keilmuan dan dapat mencapai titik puncak bangunan peradaban sejarah pada abad klasik khususnya pada masa pemerintahan al-Makmun pada masa itu. Islam berbicara persoalan puasa misalnya, hal ini dapat dimaknai bahwa Islam harus kita kembangkan pada ilmu-ilmu seputar kesehatan. Fiqih dapat dikembangkan dengan nilai-nilai keilmuan yang bermuara pada hukum-hukum sosial termasuk Isra’ dan miraj dapat dikembangkan keilmuannya melalui sins dan teknologi, dan semacamnya. Dari informasi tersebut bahwa STAIN/IAIN suatu keharusan untuk menuju UIN dalam merespon tantangan globalisasi, otonomisasi dan modernisasi. UIN tidak mengenal fakultas agama yang ada adalah pengembangan kultur keilmuan yang bernuansa Islam yang rahmatan lil’alamin.

Kata Kunci:

Sejarah singkat, tantangan menuju UIN dan STAIN/IAIN Menuju UIN

Iklan

POLA DASAR PEMBARUAN DALAM PEMIKIRAN PENDIDIKAN A.MALIK FADJAR

Desember 15, 2008

idris

Oleh : Muhammad Idris

Abstrak

A.Malik Fadjar menempati posisi yang unik dalam sejarah perjalanan dunia pendidikan di Indonesia. Ia adalah satu-satunya tokoh pemikir, birokrat dan praktisi pendidikan yang pernah menduduki posisi puncak dua departemen yang menangani pendidikan di tanah air. Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional. Dengan posisi yang unik itu A. Malik Fadjar memiliki kredibilitas yang kuat untuk mengatasi dikotomi pendidikan Islam dan pendidikan umum menuju kemajuan. Dalam konteks sejarah pemikiran pendidikan, A.Malik Fadjar berada pada posisi yang strategis dan dinamis. Artinya tidak hanya berfikir dalam kemajuan pendidikan atau berwacana tetapi sekaligus berada diregulator untuk mengubah sistem pendidikan secara holistik dan universal untuk mereformasi pendidikan menuju kemajuan.

Kata Kunci:
Pola dasar pembaruan, Pembaruan pendidikan


MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Agustus 12, 2008

Oleh: Muhammad Idris

Abstrak

Tulisan ini menguraikan manajemen pendidikan nasional dalam konteks kekinian, terutama setelah pendidikan menjadi salah satu sektor yang didesentralisasikan. Dengan adanya desentralisasi pendidikan, manajemen pendidikan persekolahan menjadi otonom. Sekolah memperoleh otonomi, dan dengan adanya otonomi itu, maka sekolah memiliki otonomi untuk menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan perencanaan sekolah.
Dalam era otonomi khususnya otonomi pendidikan, daerah diharapkan dapat secara mandiri mengelola pendidikan termasuk dalam hal ini adalah lembaga pendidikan (sekolah). Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan pilihan sekaligus orientasi pemerintah daerah dalam era otonomi tersebut.
Pada sisi lain, penerapan MBS adalah bagian dari paradigma baru pengelolaan pendidikan, khususnya pada tingkat sekolah, yang diharapkan dapat menjadi solusi atas segala permasalahan pendidikan terutama pada tingkat mikro (sekolah).

Kata Kunci:
Otonomi Pendidikan, MBS


LIBERALISASI PENDIDIKAN ISLAM: UPAYA PENINGKATAN KUALITAS UMMAT

Agustus 7, 2008

Oleh : Muhammad Idris

Pendahuluan

Dewasa ini, wacana Pendidikan, telah menjadi icon yang menarik untuk diperbincangkan di kalangan pemikir pendidikan. Bahkan menyedot perhatian besar di kalangan pemerhati pendidikan. Hal ini, sejalan dengan kemajuan dan perkembangan zaman yang semakin pesat dan canggih akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan pemikiran Islam syarat dengan pendidikan liberal (penuh kreativitas). Hal tersebut dipandang penting, namun pendidikan yang ada telah mengabaikan nilai fitrah manusia yang memilki kebebasan. Nilai kebebasan yang ada di dalam diri individu manusia saat ini diambil alih oleh individu yang lain dengan mengatasnamakan demokrasi. Lebih nyata dalam realitas kehidupan, mengambil hak-hak individu yang lain melalui lembaga dengan dalih demokrasi dan kualitas.

Seorang pakar pendidikan Paulo Freire misalnya, memberikan ilustrasi bahwa pendidikan dewasa ini melalui lembaga sekolah membentuk insan-insan robot yang bekerja bagaikan mesin yang bekerja secara mekanik, manusia secara bertahap dipangkas kemerdekaan dan kebebasannya dalam bertindak. Secara sederhana Freire menegaskan bahwa “konsistensi yang absolut akan membuat hidup ini menjadi sebuah pengalaman yang tidak harum, tidak berwarna, dan tidak terasa”. Atas dasar tersebut Freire memilki konsep deschooling, belajar tanpa sekolah. Sebab belajar dapat dilakukan di luar institusi sekolah bahkan dalam ruangan terbuka sekalipun.

Baca entri selengkapnya »